lidya
Waktu kecil, kira-kira sampai umur 8 tahun, saya adalah anak yang tinggal di lingkungan perumnas yang permainan umumnya dilakukan di lapangan beraspal, taman yang rapi, atau di teras rumah. Akrab sekali dengan monopoli, ludo, orang-orangan, atau gambaran, khas permainan anak kota jaman '90-an.
Suatu saat keluarga saya harus pindah rumah, waktu itu saya masih kelas 3 sd. Lingkungan baru saya belum banyak memiliki jalan yang beraspal. Kebanyakan hanya jalan setapak yang kecil. Berbeda sekali dengan lingkungan rumah saya dulu yang jalanannya lebar karena banyak keluar masuk mobil. Lapangan pun belum beraspal dan masih tanah.

Sebagai anak baru, saya harus menarik perhatian anak-anak lingkungan sekitar agar mau berteman dan bermain dengan saya. Saya sodorkan kepada mereka berbagai permainan yang saya punya, seperti monopoli, ludo, atau ular tangga. Ternyata mereka sangat suka. Mereka juga suka sekali dengan buku-buku cerita bergambar milik saya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kemudian saya lebih tertarik dengan dunia mereka, dimana permainan lebih banyak dilakukan di luar rumah. Tadinya saya sampai terbengong-bengong mendengar mereka mengucapkan kata-kata kasar dengan santai dan tanpa merasa bersalah. Namun, lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dan tutur kata saya yang tadinya sopan dan halus lambat laun berubah. Saudara saya yang kadang sering berkunjung pun kaget melihat perubahan saya. Banyak kata-kata mereka yang saya tidak paham, seperti kata keder, paranin, dan lain-lain. Namun, saya menyukai mereka. Banyak sekali petualangan yang mereka sodori untuk saya lakukan. Seringkali saat sore mereka mengajak saya ke hutan mengambil daun cincau, jambu mete, dan tebu. Kami juga sering main di kali, memancing dan mengambil tutut untuk dipanggang. Memetik buah seri di sawah. Membantu kakek salah satu teman kami mengambil daun pisang untuk dijual dengan upah seratus rupiah sekali angkut. Tentu saja orang tua saya tidak tahu semua itu karena mereka sibuk bekerja. Hanya kakak saya yang sibuk teriak-teriak memanggil saya hanya untuk sekedar mandi atau membeli sesuatu ke warung, padahal itu hanya alasan untuk menyuruh saya pulang.

Selama dua tahun saya disana dan sudah bisa disebut sebagai anak kampung. Saya bangga akan hal itu. Pada saat saya menginjak kelas 5 sd, kami sekeluarga pindah kembali ke lingkungan yang bisa disebut kota dan saya kehilangan masa-masa menyenangkan itu. Namun, 2 tahun cukup bagi saya untuk merasakan sebagai anak kampung dan pengalaman itu tidak akan saya lupakan. Saya tidak membayangkan jika saja saya tidak pernah kesana dan tidak merasakan pengalaman-pengalaman itu. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan sebagai anak kampung.


Lidya Nurmalasari
16 Maret 2013