lidya
Aku suka langit sore di bis kota nomor 9BT jurusan Kampung Rambutan-Bekasi. Langit yang hanya bisa kulihat jika aku beruntung mendapatkan posisi dekat jendela sebelah kiri. Kadang memang aku tidak bisa melihatnya karena kebetulan pulang dari kampus hari masih siang atau sudah malam. Dan aku juga tidak bisa melihatnya jika bis penuh sesak dengan penumpang sehingga aku terpaksa berdiri membelakangi langit itu. atau bangku yang tersisa hanya di sebelah kanan sehingga langit itu tidak bisa kulihat. Langit sore dalam bis 9bt. Langit terindah yang selalu aku nantikan. Langit yang seakan meniupkan energi baru setelah melewati banyak airmata dan keluh. Langit yang hanya bisa kulihat di dalam bis 9bt yang membawaku pulang.
Jika beruntung, aku mendapatkan pelangi di langit itu. Dan aku mendapatkannya di hari terbaik. Hari dimana perjuanganku di kampus telah berakhir. Dan pelangi itu hadir :)

lidya
Waktu berjalan, tanpa sadar aku sampai di titik ini. Titik dimana aku tidak tahu harus kemana, harus apa, dan bahkan apa yang aku mau. Bertemu dengan orang-orang baru yang membuatku terhenyak bahwa apa yang kulalui selama ini hanyalah bagian dunia yang sangat kecil dari begitu besarnya diameter bola bumi ini.
Aku seperti terombang-ambing di tengah laut lepas. Sendirian. Dan kebingungan. Perahu mana yang harus kumasuki dari begitu banyak perahu yang ada. Bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri. Bagian dari perahu manakah aku ini?
Yang aku kejar selama ini adalah kebahagiaan. setidaknya, hanya itulah yang aku tahu. Tapi kini, aku sendiri mulai lupa, ataukah memang tidak tahu dari awal? Apakah kebahagiaan itu? Dunia seperti apa yang disebut kebahagiaan? Dunia tawa kah? Dunia toleransi? Dunia mengalah? Dunia mencintai? Dunia materi? Atau.. Adakah dunia lain yang bisa kusebut, "Inilah dunia bahagia"?