lidya
Untuk kamu yang di Jakarta Timur,
Kamu adalah salah satu harta yang paling berharga setelah keluarga. Kamu tak tergantikan karena kamu begitu spesial. Kamu lebih dari sekedar pensil warna.
Sebuah prinsip terlalu rumit untuk dihadirkan pada kita yang sederhana. Namun aku yakin kamu mengerti karena kamu di jalan yang sama.
Yang kini aku harapkan hanyalah aku dapat terus menghitung tahun-tahun persahabatan kita hingga penerusku dan kamu  mengetahuinya.

***

Aku mempunyai beberapa sahabat. Dan kali ini aku akan menceritakan salah satunya. Bukan berarti dia lebih penting dari yang lain. Bukan juga karena dia yang paling spesial. Semua sahabatku spesial dengan caranya masing-masing. Namun, alasannya sesederhana, kali ini adalah gilirannya.
Hingga saat ini, kurang lebih 8 tahun aku mengenalnya. Cukup lama bukan? Dia teman kuliahku. Awalnya kami hanya kenal karena tergabung dalam kelompok yang dibimbing senior. Kemudian kami dekat karena beberapa hal. Beberapa kebetulan-kebetulan yang aku percaya adalah seleksi alam. Dia berbeda gender denganku. Merupakan suatu hal yang mencengangkan sebenarnya untukku karena betapa seringnya kudengar dari orang-orang, bahwa tidak ada yang namanya persahabatan laki-laki dan perempuan. Itu tidak mungkin. Namun, kami berhasil membuktikannya.
Semua berjalan lancar sebelumnya. Jatuh bangun kami membangun persahabatan kami. Yang namanya bertengkar bukan lagi hitungan jari. Sampai akhirnya kami sadar kekurangan satu sama lain dan mampu mengatasinya.
Banyak hal telah kami lakukan dalam perjalanan panjang kami. Dari jalan-jalan bareng teman-teman ke puncak, air terjun, sampai mendaki gunung. Dan kebetulan jurusan kami selalu mengadakan PKL (praktek kuliah lapangan) yang mengharuskan kami sering keluar kota dan menginap. Kami saling tahu wajah bangun tidur kami di pagi hari, kebiasaan-kebiasaan yang kami jaga untuk tidak diketahui orang lain.
Kami sering pulang kuliah bersama. Beli sebungkus es buah dimakan berdua di pinggir jalan. Ia juga sering mengerjaiku dengan berhenti di depan rumah orang yang anjing hitamnya selalu menggonggong, atau masuk ke kuburan saat maghrib. Menunggu hujan sampai kami harus pulang malam karena hujan tak kunjung berhenti. Dia juga sering menurunkanku di pinggir jalan jika melihat polisi karena aku tidak mengenakan helm. Lalu aku harus berjalan kaki sampai melewati polisi tersebut dan dia menungguku disana. Kadang dia memang sangat menyebalkan.
Ketika kami lulus kuliah, semua teman-teman kami sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang pulang ke daerah asalnya, ada yang menikah, atau sibuk dengan pekerjaannya. Namun kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Entah itu lari pagi di bundaran HI saat Car Free Day, berenang di Kopassus karena bersih dan murah, membeli barang elektronik di mangga dua, atau nonton bioskop. Kami lakukan berdua. Ya, hanya berdua.
Mungkin pembaca menganggap, seharusnya kami punya perasaan lebih dari hanya sekedar sahabat. Nyatanya tidak. Kami saling tahu perasaan masing-masing. Dia tahu siapa yang aku suka, dan aku tahu siapa yang dia suka. Aku menyayangi dia sebagai sahabat yang selalu ada untukku, selalu siap mendengar ceritaku, yang tahu baik burukku tanpa aku merasa malu memperlihatkannya. Dia yang cuek mendengar marahku, sabar melihat air mataku. Mungkin, saking tahunya pribadi kami masing-masing, membuat kami ilfeel untuk merubah perasaan kami lebih dari sahabat.
Aku pernah beberapa kali menjadi sasaran kecemburuan perempuan-perempuan yang menyukainya. Teman sekelas, adik kelas, bahkan kakak kelas. Entah polos atau tidak peka, dia tidak pernah tahu perhatian lebih yang diberikan seseorang adalah bentuk rasa suka mereka. Sampai aku yang menyampaikan padanya. Awalnya dia selalu tidak percaya sampai dia melihat sendiri. Kadang aku suka iseng panas-panasi mereka dengan sok mesra dengan sahabatku itu, sampai mereka kesal. Jahat memang. Tapi aku melakukannya dengan izinnya. Karena dia memang tidak bisa membalas perasaan perempuan-perempuan itu. Dan kadang mereka bertingkah sangat menyebalkan padaku.
Namun kini semua berubah. Dan itu karena aku. Ya, hanya karena aku. Aku yang merubah keadaan kami. Sungguh, bukan aku bermaksud memutus atau merusak persahabatan kami. Namun, ada hal-hal yang cukup prinsipil yang mempengaruhi keputusanku.
Dimulai dari berubahnya lingkunganku sehingga mengubah pula cara pandangku. Sampai aku merasa, jalan bersamanya tak pantas ku lakukan. Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau tidak. Ada sedikit penyesalan karena terkadang aku merindukan saat-saat kebersamaan kami. Namun, aku tidak bisa mundur lagi. Aku tidak ingin kehilangan dia sebagai sahabat. Namun, aku juga tidak bisa bersamanya hanya berdua. Kami sudah tidak seperti dulu lagi. Dunia kami sudah berubah. Aku hanya berharap bahwa dia mengerti. Bukan hanya mengerti pikiran dan perasaanku, namun memahami apa yang seharusnya dia lakukan sekarang ini.
Harapan tinggal harapan. Ia mencoba mengerti pemikiranku, tapi ia pergi. Seharusnya ia tidak pergi. Jika ia pergi, berarti dia tidak memahami apa yang harusnya dia lakukan. Aku tahu dia marah. Dan aku menyesalkan kemarahannya itu. Walaupun aku paham kemarahannya. Posisiku seperti aku memaksa dia untuk tidak marah, padahal aku yang telah membuatnya marah. Maaf jika aku terlalu egois. Aku juga tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau tidak. Untuk saat ini mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan.

Maaf pensil warnaku, maaf sahabat spesialku, maafkan keegoisanku, maaf ....