lidya

Di malam penghujung bulan ini, aku mendapatkan beberapa pemikiran. Apa yang aku alami tidak terlalu luar biasa, tapi cukup membuatku memikirkan beberapa hal.
Hari ini kegiatanku hanya nonton film di bioskop, berdua dengan teman. Ke toko buku sendirian, dan pulang naik kereta.
Sederhana, tapi entah kenapa cukup membuatku berpikir dalam. Mungkin karena aku baru melihat dunia luar, setelah setiap hari yang kulihat hanya ruang kelas dan jalanan macet.
Ketika nonton film, aku merasa lebih mengenal diriku. Aku yang suka hal baru, nyentrik, dan di luar kebiasaan. Hal seperti itu aku anggap jenius. Sebelumnya aku sempat merenungi, apa yang sebenarnya aku suka. Aku hanya takut jika kesukaanku dikarenakan oleh orang lain. Karena pendapat atau anggapan orang. Aku takut. Karena itu aku selalu bertanya-tanya benarkah yang sudah kulakukan adalah yang sebenarnya aku suka, bukan karena penilaian orang lain?
Hari ini aku tahu sedikit. Dari filmyang aku tonton hari ini. Aku suka dengan gambar-gambar di film itu, hal-hal yang dijalani, tentu saja berupa perjalanan dan sedikit tampilan budaya, yang menurut orang lain mungkin ngga jelas dan membosankan, tapi buatku, itu kereenn!
Lalu aku ke toko buku, seketika aku tertarik pada sekumpulan buku tentang tokoh sejarah. Tan malaka, Cut nyak dien, E. F. E. Douwes Dekker, sampai merembet ke Plato dan Socrates, kemudian sejarah Majapahit. Rasanya ingin aku bawa pulang semua buku itu. Sesaat aku tertawa, ingat saat masa sekolah dimana aku sangat membenci pelajaran sejarah. Aku lebih memilih mengerjakan 50 soal matematika dibanding menghapal pelajaran sejarah yang selalu dengan mudahnya aku lupakan. Yah, daya ingatku lemah. Namun, semesta berkonspirasi (mengutip kalimat yg lagi ngetren saat ini ;)).
Kata orang, jika kita terlalu membenci sesuatu, maka kita akan berhadapan dengan hal tersebut. Dan itu terjadi padaku. Setelah lulus kuliah, aku diharuskan mengajar IPS yang didalamnya ada geografi, sejarah, dan ekonomi. Well, geografi emang bidangku, ekonomi masih okelah, sejarah.. Nightmare!
Dengan terpaksa aku mengajar sejarah yg artinya harus belajar lagi.
Dan ternyata, berkutat dengan sejarah tidak buruk, malah membuatku tertarik. Dan aku membenarkan kalimat, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya", yang dulu kalimat itu aku cibir karena menurutku omong kosong.
Dan sekarang.. Ya, aku tertarik pada sejarah.
Kemudian, aku menelusuri buku2 di toko tersebut hingga sampai di barisan komik dan novel. Sampai tersenyum-senyum ketika melihat komik yang pernah aku tonton animenya bersama teman di laptop, ingat ceritanya yang kocak. Melihat deretan komik dengan berbagai judul. Lalu hinggap di lemari penuh novel remaja yang malas kulihat karena ceritanya ngga jauh beda dengan yang bisa kubaca gratis di Wattpad, lalu berbinar-binar ketika melihat puisi Khalil Gibran, novel sastra Buya Hamka, Charles Dickens, dan Ernest Hemingway. Lalu sampai pada novel ringan nan manis Dylan.
See? Unik memang. Yang aku lihat begitu beragam. Dari mulai sejarah, filsafat, komik ringan, puisi, novel sastra, dan novel cerita cinta anak SMA. Yes, memang begitulah aku, imajiner tapi menyukai teori dan bukti di lapangan, apa sih..? Tapi memang itu yg dikatakan ketika aku mencoba melakukan psikotest. Katanya perpaduan unik.
So.. Nggak gampang memang mengenali diri. Yang kurasa lebih sulit dari mengenali orang lain. Butuh proses dan harus mengalami beberapa hal sehingga sedikit demi sedikit misteri dalam diri kita terkuak.

Ngga jelas sih ini tulisannya. Mohon maaf yaa.. Hehee

lidya

Akan ada pelangi setelah hujan. Kalimat itu yang dari dulu jadi penyemangat gw dalam menjalani semua beban hidup. Daann.. Finally, terbukti. Yah, gw sedang benar-benar merasakan hadirnya pelangi itu sekarang. Seolah-olah gw dapat kebahagian bertubi-tubi setelah kesialan bertubi-tubi. Sekarang gw lagi bahagiaaaa banget. Bahagia dengan cinta yang hadir di sekeliling gw. Yah, bermula dari waktu gw ulang tahun. Tahun2 belakangan ini memang ucapan ulang tahun hanya dari orang2 terrrrdekat dan keluarga aja. Tapi tahun ini banyak banget yang inget (mungkin diingetin facebook) dan ngucapin. Itu aja udah bikin gw bahagia. Tapi gw juga dapet kejutan (yg udah gw tau duluan) dari murid2 gw. Mereka bawain kue tart dan banyak kado. Gw merasa terharu banget sama cinta mereka.
Selain itu juga gw merasa ada aja rejeki yang dateng disaat gw merasa lagi bokek banget.
Mungkin bagi kalian yang baca ini biasa banget. Tapi bagi gw, ini luar biasa karena apa yang sudah gw lalui sebelum ini. Yah, seperti yang tadi gw bilang. Kesialan bertubi-tubi. Dari ilang hp yg baru 2 bulan gw beli, dapet tuduhan ngga berperikemanusiaan dari atasan, jatuh dari motor, digigitin serangga yg gatelnya luar biasa, stiker motor dicabut orang, kabel speedometer putus, diomelin temen yg udah kaya sodara, dan masih banyak lagi. Dan hebatnya, gw sama sekali ngga ngeluarin air mata untuk itu semua. Sekali sih pas mau tidur. Tapi semua gw jalani dengan ikhlas dan sabar, yah walaupun masih keluar dumelan-dumelan dan ratapan. Dan alhamdulillah, Allah menjawab dengan perasaan yang luar biasa bahagia yang mungkin ngga bisa dibeli dengan uang seberapapun. Cinta yang gw dapet dari murid-murid gw dan orang di sekitar gw.

lidya

Hari ini pikiranku penuh. Penuh dengan terkaan, penyesalan, dan kecurigaan. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan hari ini benar atau tidak. Tapi aku mendapatkan satu hal, bahwa aku tidak akan mempercayai orang sepenuhnya. Aku mendapatkan sesuatu yang membuatku berpikir bahwa mereka memang bukan orang yang betul betul benar. Mereka tidak bersih. Mereka memanfaatkan apapun demi mereka. Saya tidak katakan keuntungan karena saya rasa itu bukan keuntungan untuk mereka. Mempercayai seseorang tanpa bukti itu memang salah. Benar-benar salah. Dan saya menyesal telah melakukannya. Dan kejujuran mungkin tidak akan dihargai oleh orang-orang yang hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar, bukan apa yang sebenarnya.

lidya
Aku suka langit sore di bis kota nomor 9BT jurusan Kampung Rambutan-Bekasi. Langit yang hanya bisa kulihat jika aku beruntung mendapatkan posisi dekat jendela sebelah kiri. Kadang memang aku tidak bisa melihatnya karena kebetulan pulang dari kampus hari masih siang atau sudah malam. Dan aku juga tidak bisa melihatnya jika bis penuh sesak dengan penumpang sehingga aku terpaksa berdiri membelakangi langit itu. atau bangku yang tersisa hanya di sebelah kanan sehingga langit itu tidak bisa kulihat. Langit sore dalam bis 9bt. Langit terindah yang selalu aku nantikan. Langit yang seakan meniupkan energi baru setelah melewati banyak airmata dan keluh. Langit yang hanya bisa kulihat di dalam bis 9bt yang membawaku pulang.
Jika beruntung, aku mendapatkan pelangi di langit itu. Dan aku mendapatkannya di hari terbaik. Hari dimana perjuanganku di kampus telah berakhir. Dan pelangi itu hadir :)

lidya
Waktu berjalan, tanpa sadar aku sampai di titik ini. Titik dimana aku tidak tahu harus kemana, harus apa, dan bahkan apa yang aku mau. Bertemu dengan orang-orang baru yang membuatku terhenyak bahwa apa yang kulalui selama ini hanyalah bagian dunia yang sangat kecil dari begitu besarnya diameter bola bumi ini.
Aku seperti terombang-ambing di tengah laut lepas. Sendirian. Dan kebingungan. Perahu mana yang harus kumasuki dari begitu banyak perahu yang ada. Bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri. Bagian dari perahu manakah aku ini?
Yang aku kejar selama ini adalah kebahagiaan. setidaknya, hanya itulah yang aku tahu. Tapi kini, aku sendiri mulai lupa, ataukah memang tidak tahu dari awal? Apakah kebahagiaan itu? Dunia seperti apa yang disebut kebahagiaan? Dunia tawa kah? Dunia toleransi? Dunia mengalah? Dunia mencintai? Dunia materi? Atau.. Adakah dunia lain yang bisa kusebut, "Inilah dunia bahagia"?

lidya
Waktu kecil, kira-kira sampai umur 8 tahun, saya adalah anak yang tinggal di lingkungan perumnas yang permainan umumnya dilakukan di lapangan beraspal, taman yang rapi, atau di teras rumah. Akrab sekali dengan monopoli, ludo, orang-orangan, atau gambaran, khas permainan anak kota jaman '90-an.
Suatu saat keluarga saya harus pindah rumah, waktu itu saya masih kelas 3 sd. Lingkungan baru saya belum banyak memiliki jalan yang beraspal. Kebanyakan hanya jalan setapak yang kecil. Berbeda sekali dengan lingkungan rumah saya dulu yang jalanannya lebar karena banyak keluar masuk mobil. Lapangan pun belum beraspal dan masih tanah.

Sebagai anak baru, saya harus menarik perhatian anak-anak lingkungan sekitar agar mau berteman dan bermain dengan saya. Saya sodorkan kepada mereka berbagai permainan yang saya punya, seperti monopoli, ludo, atau ular tangga. Ternyata mereka sangat suka. Mereka juga suka sekali dengan buku-buku cerita bergambar milik saya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kemudian saya lebih tertarik dengan dunia mereka, dimana permainan lebih banyak dilakukan di luar rumah. Tadinya saya sampai terbengong-bengong mendengar mereka mengucapkan kata-kata kasar dengan santai dan tanpa merasa bersalah. Namun, lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dan tutur kata saya yang tadinya sopan dan halus lambat laun berubah. Saudara saya yang kadang sering berkunjung pun kaget melihat perubahan saya. Banyak kata-kata mereka yang saya tidak paham, seperti kata keder, paranin, dan lain-lain. Namun, saya menyukai mereka. Banyak sekali petualangan yang mereka sodori untuk saya lakukan. Seringkali saat sore mereka mengajak saya ke hutan mengambil daun cincau, jambu mete, dan tebu. Kami juga sering main di kali, memancing dan mengambil tutut untuk dipanggang. Memetik buah seri di sawah. Membantu kakek salah satu teman kami mengambil daun pisang untuk dijual dengan upah seratus rupiah sekali angkut. Tentu saja orang tua saya tidak tahu semua itu karena mereka sibuk bekerja. Hanya kakak saya yang sibuk teriak-teriak memanggil saya hanya untuk sekedar mandi atau membeli sesuatu ke warung, padahal itu hanya alasan untuk menyuruh saya pulang.

Selama dua tahun saya disana dan sudah bisa disebut sebagai anak kampung. Saya bangga akan hal itu. Pada saat saya menginjak kelas 5 sd, kami sekeluarga pindah kembali ke lingkungan yang bisa disebut kota dan saya kehilangan masa-masa menyenangkan itu. Namun, 2 tahun cukup bagi saya untuk merasakan sebagai anak kampung dan pengalaman itu tidak akan saya lupakan. Saya tidak membayangkan jika saja saya tidak pernah kesana dan tidak merasakan pengalaman-pengalaman itu. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan sebagai anak kampung.


Lidya Nurmalasari
16 Maret 2013
lidya
Mimpi dan keajaiban
aku percaya keduanya
karena itu aku selalu bermimpi
dan aku yakin akan ada keajaiban-keajaiban yang membuat mimpi itu terwujud
yang perlu dilakukan hanyalah dua hal,
yaitu berusaha dan berdoa.
sebelumnya aku tidak terlalu mengerti makna dari dua kata itu
tapi sekarang,
ketika aku mencoba mewujudkan mimpi-mimpiku
yang perlu kulakukan adalah berusaha keras,
sekeras-kerasnya,
semampunya,
sampai kita mencapai titik dimana tidak ada kesanggupan lagi
dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan
selain berdoa
usaha-usaha yang kita lakukan
akan sia-sia
jika kita tidak meminta pada Tuhan untuk melancarkannya,
untuk memuluskannya.
Tuhan yang mengatur semuanya
dan Dia tidak akan diam melihat kerja keras kita
kesungguhan kita.
Jika Tuhan tidak mewujudkan mimpi kita
maka Dia mempunyai rencana lain
mewujudkan mimpi lain untuk kita
yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Percaya pada mimpimu
dan kekuatan doa.