Masih saja terpaku menghitung jejak langkahku yang tak pernah ada habisnya.
Sambil memunguti daun-daun kering yang telah rusak kuinjak.
Memasukkannya dalam kantung yang semakin menggembung dipenuhi sampah kenangan.
Yang seharusnya kubuang di tempat yang tak akan pernah kukunjungi lagi.
Namun, semakin penuh kantung itu, semakin aku tak mampu membuangnya.
Terlalu indah untuk dibuang dan dilepaskan begitu saja.
Walau aku tahu itu cuma sampah.
Sampah yang semakin lama semakin memberatkan pundakku untuk memikulnya.
Seandainya saja mentari yang sedari tadi memelototiku bisa membakarnya dan menjadikannya asap untuk kemudian membumbung tinggi di angkasa,
menemani awan,
menjadi hujan yang akan menyiram semua penat ini.
Bekasi, 30 September 2012
Sambil memunguti daun-daun kering yang telah rusak kuinjak.
Memasukkannya dalam kantung yang semakin menggembung dipenuhi sampah kenangan.
Yang seharusnya kubuang di tempat yang tak akan pernah kukunjungi lagi.
Namun, semakin penuh kantung itu, semakin aku tak mampu membuangnya.
Terlalu indah untuk dibuang dan dilepaskan begitu saja.
Walau aku tahu itu cuma sampah.
Sampah yang semakin lama semakin memberatkan pundakku untuk memikulnya.
Seandainya saja mentari yang sedari tadi memelototiku bisa membakarnya dan menjadikannya asap untuk kemudian membumbung tinggi di angkasa,
menemani awan,
menjadi hujan yang akan menyiram semua penat ini.
Bekasi, 30 September 2012

Posting Komentar