lidya

https://drive.google.com/file/d/1D58OMgLc06YsEkPY9kr-V4LA-jbxvcki/view?usp=sharing 

lidya
Beberapa waktu ini aku merasakan kejenuhan. Malas. Bosan dengan rutinitas.
Padahal, sebelumnya tak pernah sebegininya.

Hari ini aku menyadari, aku nggak punya "tandem".

Obrolan yang terjadi di lingkungan kerja rasanya begitu membosankan. Seputar dunia keluarga, bicarakan suami, bicarakan anak. Tidak salah memang, bahkan banyak pelajaran yang bisa kuambil untukku kelak. Tapi rasanya terlalu membosankan. Untukku.
Obrolan politik pun sulit, karena mereka orang-orang yang kaku dan tidak berpikiran terbuka. Jika tidak sejalan, maka orang lain akan dianggap salah bahkan kafir. Obrolan lingkungan pun ngga nyambung. Banyak yang untuk hal-hal terkini mereka tidak tahu, dan lagi-lagi mereka akan minta penjelasanku.
Aku butuh diskusi. Butuh "tandem" untuk membicarakan hal-hal seru yang memancing untuk berpikir lebih, bukan hanya soal hobi nonton drama korea atau gosip artis.
Butuh orang-orang yang berwawasan agar aku tidak hanya berada dalam tempurung. Dalam goa yang membuatku tidak berkembang.
Pada akhirnya, aku hanya bisa lari ke media sosial seperti twitter dan instagram. Dan itu tidak banyak membantu.

Obrolan-obrolan ringan yang terjadi malah hanya membuatku lelah.

Aku butuh "tandem".

22 Oktober 2019
Label: 0 Comment | edit post
lidya

Jari mulai lelah memegang pena
Kertas masih kosong
Tak satu coretan pun menodainya

Apa yang salah?
Pikiran yang buntu,
Jari yang pegal,
Atau
Perasaan mendalam pada kertas itu?

Perasaan mendalam membuatmu sayang
Sayang pada si kertas
Tak ingin mengotorinya
Membuatnya tetap bersih
Hingga membiarkannya tetap kosong

Tapi tahukah kamu?
Perasaan si kertas
Kertas rindu
Rindu dicoreti, diisi
Ia tak mau kosong

Label: 0 Comment | edit post
lidya

Kutunggu langit mendung
Meski mentari menyeringai gembira
Awan putih bergerak perlahan bahagia
Burung beriringan terbang sambil bersenda

Aku tak suka keriangan itu
Mentari yang memanggil peluhku
Awan yang menghalangi pandangku
Burung yang berisik mengusikku

Mendung
Aku rindu
Pada teduhmu yang menghilangkan resah
Membawa angin dingin membelai wajah
Pada rintik yang segera kau hadirkan
Bernyanyi tanpa berkata

Label: 0 Comment | edit post
lidya
Untuk kamu yang di Jakarta Timur,
Kamu adalah salah satu harta yang paling berharga setelah keluarga. Kamu tak tergantikan karena kamu begitu spesial. Kamu lebih dari sekedar pensil warna.
Sebuah prinsip terlalu rumit untuk dihadirkan pada kita yang sederhana. Namun aku yakin kamu mengerti karena kamu di jalan yang sama.
Yang kini aku harapkan hanyalah aku dapat terus menghitung tahun-tahun persahabatan kita hingga penerusku dan kamu  mengetahuinya.

***

Aku mempunyai beberapa sahabat. Dan kali ini aku akan menceritakan salah satunya. Bukan berarti dia lebih penting dari yang lain. Bukan juga karena dia yang paling spesial. Semua sahabatku spesial dengan caranya masing-masing. Namun, alasannya sesederhana, kali ini adalah gilirannya.
Hingga saat ini, kurang lebih 8 tahun aku mengenalnya. Cukup lama bukan? Dia teman kuliahku. Awalnya kami hanya kenal karena tergabung dalam kelompok yang dibimbing senior. Kemudian kami dekat karena beberapa hal. Beberapa kebetulan-kebetulan yang aku percaya adalah seleksi alam. Dia berbeda gender denganku. Merupakan suatu hal yang mencengangkan sebenarnya untukku karena betapa seringnya kudengar dari orang-orang, bahwa tidak ada yang namanya persahabatan laki-laki dan perempuan. Itu tidak mungkin. Namun, kami berhasil membuktikannya.
Semua berjalan lancar sebelumnya. Jatuh bangun kami membangun persahabatan kami. Yang namanya bertengkar bukan lagi hitungan jari. Sampai akhirnya kami sadar kekurangan satu sama lain dan mampu mengatasinya.
Banyak hal telah kami lakukan dalam perjalanan panjang kami. Dari jalan-jalan bareng teman-teman ke puncak, air terjun, sampai mendaki gunung. Dan kebetulan jurusan kami selalu mengadakan PKL (praktek kuliah lapangan) yang mengharuskan kami sering keluar kota dan menginap. Kami saling tahu wajah bangun tidur kami di pagi hari, kebiasaan-kebiasaan yang kami jaga untuk tidak diketahui orang lain.
Kami sering pulang kuliah bersama. Beli sebungkus es buah dimakan berdua di pinggir jalan. Ia juga sering mengerjaiku dengan berhenti di depan rumah orang yang anjing hitamnya selalu menggonggong, atau masuk ke kuburan saat maghrib. Menunggu hujan sampai kami harus pulang malam karena hujan tak kunjung berhenti. Dia juga sering menurunkanku di pinggir jalan jika melihat polisi karena aku tidak mengenakan helm. Lalu aku harus berjalan kaki sampai melewati polisi tersebut dan dia menungguku disana. Kadang dia memang sangat menyebalkan.
Ketika kami lulus kuliah, semua teman-teman kami sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang pulang ke daerah asalnya, ada yang menikah, atau sibuk dengan pekerjaannya. Namun kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu. Entah itu lari pagi di bundaran HI saat Car Free Day, berenang di Kopassus karena bersih dan murah, membeli barang elektronik di mangga dua, atau nonton bioskop. Kami lakukan berdua. Ya, hanya berdua.
Mungkin pembaca menganggap, seharusnya kami punya perasaan lebih dari hanya sekedar sahabat. Nyatanya tidak. Kami saling tahu perasaan masing-masing. Dia tahu siapa yang aku suka, dan aku tahu siapa yang dia suka. Aku menyayangi dia sebagai sahabat yang selalu ada untukku, selalu siap mendengar ceritaku, yang tahu baik burukku tanpa aku merasa malu memperlihatkannya. Dia yang cuek mendengar marahku, sabar melihat air mataku. Mungkin, saking tahunya pribadi kami masing-masing, membuat kami ilfeel untuk merubah perasaan kami lebih dari sahabat.
Aku pernah beberapa kali menjadi sasaran kecemburuan perempuan-perempuan yang menyukainya. Teman sekelas, adik kelas, bahkan kakak kelas. Entah polos atau tidak peka, dia tidak pernah tahu perhatian lebih yang diberikan seseorang adalah bentuk rasa suka mereka. Sampai aku yang menyampaikan padanya. Awalnya dia selalu tidak percaya sampai dia melihat sendiri. Kadang aku suka iseng panas-panasi mereka dengan sok mesra dengan sahabatku itu, sampai mereka kesal. Jahat memang. Tapi aku melakukannya dengan izinnya. Karena dia memang tidak bisa membalas perasaan perempuan-perempuan itu. Dan kadang mereka bertingkah sangat menyebalkan padaku.
Namun kini semua berubah. Dan itu karena aku. Ya, hanya karena aku. Aku yang merubah keadaan kami. Sungguh, bukan aku bermaksud memutus atau merusak persahabatan kami. Namun, ada hal-hal yang cukup prinsipil yang mempengaruhi keputusanku.
Dimulai dari berubahnya lingkunganku sehingga mengubah pula cara pandangku. Sampai aku merasa, jalan bersamanya tak pantas ku lakukan. Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau tidak. Ada sedikit penyesalan karena terkadang aku merindukan saat-saat kebersamaan kami. Namun, aku tidak bisa mundur lagi. Aku tidak ingin kehilangan dia sebagai sahabat. Namun, aku juga tidak bisa bersamanya hanya berdua. Kami sudah tidak seperti dulu lagi. Dunia kami sudah berubah. Aku hanya berharap bahwa dia mengerti. Bukan hanya mengerti pikiran dan perasaanku, namun memahami apa yang seharusnya dia lakukan sekarang ini.
Harapan tinggal harapan. Ia mencoba mengerti pemikiranku, tapi ia pergi. Seharusnya ia tidak pergi. Jika ia pergi, berarti dia tidak memahami apa yang harusnya dia lakukan. Aku tahu dia marah. Dan aku menyesalkan kemarahannya itu. Walaupun aku paham kemarahannya. Posisiku seperti aku memaksa dia untuk tidak marah, padahal aku yang telah membuatnya marah. Maaf jika aku terlalu egois. Aku juga tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau tidak. Untuk saat ini mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan.

Maaf pensil warnaku, maaf sahabat spesialku, maafkan keegoisanku, maaf .... 
lidya

Aku sudah mengambil keputusan. Sebuah keputusan besar kurasa, karena mampu mengubah diri dan jalan hidupku. Aku kini meragu apakah aku telah mengambil keputusan yang tepat. Aku merasakan kebingungan sekarang. Sebuah ketidaknyamanan yang membuatku cukup lelah dan tidak bergairah.

Aku memutuskan untuk pindah pekerjaan. Aku berpikir bahwa pekerjaan ini akan menjadikanku manusia yang lebih baik. Walau harus merubahku.
Namun ketika beberapa saat kujalani, aku merasa menjadi orang yang bukan diriku. Aku merasa terkekang, terbatasi, dan menjadi berbeda tentunya. Sejujurnya aku tidak suka ini. Aku merasa terbebani, sangat terbebani sehingga membuatku merasakan lelah yang sangat tanpa mengerjakan pekerjaan berat.
Aku bukannya tidak ingin mengubah diriku menjadi lebih baik. Namun ini terasa seperti aku sedang dipaksa menjadi orang lain dan aku tidak senang. Rasanya seperti kau sedang dipaksa bermain basket padahal kau tidak suka dan lebih suka bermain bulutangkis.
Sedih, kesal, dan tidak nyaman.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang...
Aku sudah mencoba ikhlas dan bersyukur. Namun tetap saja rasa tidak nyaman itu muncul..

lidya

Aku yang datang menghampiri

Seketika terpesona dan jatuh cinta

Pada tawa dan celoteh para pelakon yang memburu pengetahuan dan etika


Apalah aku ini

Datang dengan ilmu seadanya 

dan pengalaman yang nilainya tak ada


Biru dan jingga

3 windu menuai cerita

Kisah kasih antara hubungan manusia

Namun bukan tentang rama dan shinta


Maaf jika aku minta kau rela

Aku telah mengambil banyak darimu wahai biru dan jingga

Termasuk kaos kaki di akhir cerita

Tapi hanya sedikit yang bisa kuberi


Takdir kita hanya 3 windu

Aku yang datang hanya dengan ilmu seadanya dan pengalaman yang tak ada nilainya

Kini pergi dengan campuran warnamu


Terima kasih biru dan jingga

Walau aku tak pernah mengatakannya

Hatiku pernah tertambat pada kedua warna itu


Depok

26 Juni 2016

lidya

Di malam penghujung bulan ini, aku mendapatkan beberapa pemikiran. Apa yang aku alami tidak terlalu luar biasa, tapi cukup membuatku memikirkan beberapa hal.
Hari ini kegiatanku hanya nonton film di bioskop, berdua dengan teman. Ke toko buku sendirian, dan pulang naik kereta.
Sederhana, tapi entah kenapa cukup membuatku berpikir dalam. Mungkin karena aku baru melihat dunia luar, setelah setiap hari yang kulihat hanya ruang kelas dan jalanan macet.
Ketika nonton film, aku merasa lebih mengenal diriku. Aku yang suka hal baru, nyentrik, dan di luar kebiasaan. Hal seperti itu aku anggap jenius. Sebelumnya aku sempat merenungi, apa yang sebenarnya aku suka. Aku hanya takut jika kesukaanku dikarenakan oleh orang lain. Karena pendapat atau anggapan orang. Aku takut. Karena itu aku selalu bertanya-tanya benarkah yang sudah kulakukan adalah yang sebenarnya aku suka, bukan karena penilaian orang lain?
Hari ini aku tahu sedikit. Dari filmyang aku tonton hari ini. Aku suka dengan gambar-gambar di film itu, hal-hal yang dijalani, tentu saja berupa perjalanan dan sedikit tampilan budaya, yang menurut orang lain mungkin ngga jelas dan membosankan, tapi buatku, itu kereenn!
Lalu aku ke toko buku, seketika aku tertarik pada sekumpulan buku tentang tokoh sejarah. Tan malaka, Cut nyak dien, E. F. E. Douwes Dekker, sampai merembet ke Plato dan Socrates, kemudian sejarah Majapahit. Rasanya ingin aku bawa pulang semua buku itu. Sesaat aku tertawa, ingat saat masa sekolah dimana aku sangat membenci pelajaran sejarah. Aku lebih memilih mengerjakan 50 soal matematika dibanding menghapal pelajaran sejarah yang selalu dengan mudahnya aku lupakan. Yah, daya ingatku lemah. Namun, semesta berkonspirasi (mengutip kalimat yg lagi ngetren saat ini ;)).
Kata orang, jika kita terlalu membenci sesuatu, maka kita akan berhadapan dengan hal tersebut. Dan itu terjadi padaku. Setelah lulus kuliah, aku diharuskan mengajar IPS yang didalamnya ada geografi, sejarah, dan ekonomi. Well, geografi emang bidangku, ekonomi masih okelah, sejarah.. Nightmare!
Dengan terpaksa aku mengajar sejarah yg artinya harus belajar lagi.
Dan ternyata, berkutat dengan sejarah tidak buruk, malah membuatku tertarik. Dan aku membenarkan kalimat, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya", yang dulu kalimat itu aku cibir karena menurutku omong kosong.
Dan sekarang.. Ya, aku tertarik pada sejarah.
Kemudian, aku menelusuri buku2 di toko tersebut hingga sampai di barisan komik dan novel. Sampai tersenyum-senyum ketika melihat komik yang pernah aku tonton animenya bersama teman di laptop, ingat ceritanya yang kocak. Melihat deretan komik dengan berbagai judul. Lalu hinggap di lemari penuh novel remaja yang malas kulihat karena ceritanya ngga jauh beda dengan yang bisa kubaca gratis di Wattpad, lalu berbinar-binar ketika melihat puisi Khalil Gibran, novel sastra Buya Hamka, Charles Dickens, dan Ernest Hemingway. Lalu sampai pada novel ringan nan manis Dylan.
See? Unik memang. Yang aku lihat begitu beragam. Dari mulai sejarah, filsafat, komik ringan, puisi, novel sastra, dan novel cerita cinta anak SMA. Yes, memang begitulah aku, imajiner tapi menyukai teori dan bukti di lapangan, apa sih..? Tapi memang itu yg dikatakan ketika aku mencoba melakukan psikotest. Katanya perpaduan unik.
So.. Nggak gampang memang mengenali diri. Yang kurasa lebih sulit dari mengenali orang lain. Butuh proses dan harus mengalami beberapa hal sehingga sedikit demi sedikit misteri dalam diri kita terkuak.

Ngga jelas sih ini tulisannya. Mohon maaf yaa.. Hehee

lidya

Akan ada pelangi setelah hujan. Kalimat itu yang dari dulu jadi penyemangat gw dalam menjalani semua beban hidup. Daann.. Finally, terbukti. Yah, gw sedang benar-benar merasakan hadirnya pelangi itu sekarang. Seolah-olah gw dapat kebahagian bertubi-tubi setelah kesialan bertubi-tubi. Sekarang gw lagi bahagiaaaa banget. Bahagia dengan cinta yang hadir di sekeliling gw. Yah, bermula dari waktu gw ulang tahun. Tahun2 belakangan ini memang ucapan ulang tahun hanya dari orang2 terrrrdekat dan keluarga aja. Tapi tahun ini banyak banget yang inget (mungkin diingetin facebook) dan ngucapin. Itu aja udah bikin gw bahagia. Tapi gw juga dapet kejutan (yg udah gw tau duluan) dari murid2 gw. Mereka bawain kue tart dan banyak kado. Gw merasa terharu banget sama cinta mereka.
Selain itu juga gw merasa ada aja rejeki yang dateng disaat gw merasa lagi bokek banget.
Mungkin bagi kalian yang baca ini biasa banget. Tapi bagi gw, ini luar biasa karena apa yang sudah gw lalui sebelum ini. Yah, seperti yang tadi gw bilang. Kesialan bertubi-tubi. Dari ilang hp yg baru 2 bulan gw beli, dapet tuduhan ngga berperikemanusiaan dari atasan, jatuh dari motor, digigitin serangga yg gatelnya luar biasa, stiker motor dicabut orang, kabel speedometer putus, diomelin temen yg udah kaya sodara, dan masih banyak lagi. Dan hebatnya, gw sama sekali ngga ngeluarin air mata untuk itu semua. Sekali sih pas mau tidur. Tapi semua gw jalani dengan ikhlas dan sabar, yah walaupun masih keluar dumelan-dumelan dan ratapan. Dan alhamdulillah, Allah menjawab dengan perasaan yang luar biasa bahagia yang mungkin ngga bisa dibeli dengan uang seberapapun. Cinta yang gw dapet dari murid-murid gw dan orang di sekitar gw.

lidya

Hari ini pikiranku penuh. Penuh dengan terkaan, penyesalan, dan kecurigaan. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan hari ini benar atau tidak. Tapi aku mendapatkan satu hal, bahwa aku tidak akan mempercayai orang sepenuhnya. Aku mendapatkan sesuatu yang membuatku berpikir bahwa mereka memang bukan orang yang betul betul benar. Mereka tidak bersih. Mereka memanfaatkan apapun demi mereka. Saya tidak katakan keuntungan karena saya rasa itu bukan keuntungan untuk mereka. Mempercayai seseorang tanpa bukti itu memang salah. Benar-benar salah. Dan saya menyesal telah melakukannya. Dan kejujuran mungkin tidak akan dihargai oleh orang-orang yang hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar, bukan apa yang sebenarnya.

lidya
Aku suka langit sore di bis kota nomor 9BT jurusan Kampung Rambutan-Bekasi. Langit yang hanya bisa kulihat jika aku beruntung mendapatkan posisi dekat jendela sebelah kiri. Kadang memang aku tidak bisa melihatnya karena kebetulan pulang dari kampus hari masih siang atau sudah malam. Dan aku juga tidak bisa melihatnya jika bis penuh sesak dengan penumpang sehingga aku terpaksa berdiri membelakangi langit itu. atau bangku yang tersisa hanya di sebelah kanan sehingga langit itu tidak bisa kulihat. Langit sore dalam bis 9bt. Langit terindah yang selalu aku nantikan. Langit yang seakan meniupkan energi baru setelah melewati banyak airmata dan keluh. Langit yang hanya bisa kulihat di dalam bis 9bt yang membawaku pulang.
Jika beruntung, aku mendapatkan pelangi di langit itu. Dan aku mendapatkannya di hari terbaik. Hari dimana perjuanganku di kampus telah berakhir. Dan pelangi itu hadir :)

lidya
Waktu berjalan, tanpa sadar aku sampai di titik ini. Titik dimana aku tidak tahu harus kemana, harus apa, dan bahkan apa yang aku mau. Bertemu dengan orang-orang baru yang membuatku terhenyak bahwa apa yang kulalui selama ini hanyalah bagian dunia yang sangat kecil dari begitu besarnya diameter bola bumi ini.
Aku seperti terombang-ambing di tengah laut lepas. Sendirian. Dan kebingungan. Perahu mana yang harus kumasuki dari begitu banyak perahu yang ada. Bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri. Bagian dari perahu manakah aku ini?
Yang aku kejar selama ini adalah kebahagiaan. setidaknya, hanya itulah yang aku tahu. Tapi kini, aku sendiri mulai lupa, ataukah memang tidak tahu dari awal? Apakah kebahagiaan itu? Dunia seperti apa yang disebut kebahagiaan? Dunia tawa kah? Dunia toleransi? Dunia mengalah? Dunia mencintai? Dunia materi? Atau.. Adakah dunia lain yang bisa kusebut, "Inilah dunia bahagia"?

lidya
Waktu kecil, kira-kira sampai umur 8 tahun, saya adalah anak yang tinggal di lingkungan perumnas yang permainan umumnya dilakukan di lapangan beraspal, taman yang rapi, atau di teras rumah. Akrab sekali dengan monopoli, ludo, orang-orangan, atau gambaran, khas permainan anak kota jaman '90-an.
Suatu saat keluarga saya harus pindah rumah, waktu itu saya masih kelas 3 sd. Lingkungan baru saya belum banyak memiliki jalan yang beraspal. Kebanyakan hanya jalan setapak yang kecil. Berbeda sekali dengan lingkungan rumah saya dulu yang jalanannya lebar karena banyak keluar masuk mobil. Lapangan pun belum beraspal dan masih tanah.

Sebagai anak baru, saya harus menarik perhatian anak-anak lingkungan sekitar agar mau berteman dan bermain dengan saya. Saya sodorkan kepada mereka berbagai permainan yang saya punya, seperti monopoli, ludo, atau ular tangga. Ternyata mereka sangat suka. Mereka juga suka sekali dengan buku-buku cerita bergambar milik saya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kemudian saya lebih tertarik dengan dunia mereka, dimana permainan lebih banyak dilakukan di luar rumah. Tadinya saya sampai terbengong-bengong mendengar mereka mengucapkan kata-kata kasar dengan santai dan tanpa merasa bersalah. Namun, lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dan tutur kata saya yang tadinya sopan dan halus lambat laun berubah. Saudara saya yang kadang sering berkunjung pun kaget melihat perubahan saya. Banyak kata-kata mereka yang saya tidak paham, seperti kata keder, paranin, dan lain-lain. Namun, saya menyukai mereka. Banyak sekali petualangan yang mereka sodori untuk saya lakukan. Seringkali saat sore mereka mengajak saya ke hutan mengambil daun cincau, jambu mete, dan tebu. Kami juga sering main di kali, memancing dan mengambil tutut untuk dipanggang. Memetik buah seri di sawah. Membantu kakek salah satu teman kami mengambil daun pisang untuk dijual dengan upah seratus rupiah sekali angkut. Tentu saja orang tua saya tidak tahu semua itu karena mereka sibuk bekerja. Hanya kakak saya yang sibuk teriak-teriak memanggil saya hanya untuk sekedar mandi atau membeli sesuatu ke warung, padahal itu hanya alasan untuk menyuruh saya pulang.

Selama dua tahun saya disana dan sudah bisa disebut sebagai anak kampung. Saya bangga akan hal itu. Pada saat saya menginjak kelas 5 sd, kami sekeluarga pindah kembali ke lingkungan yang bisa disebut kota dan saya kehilangan masa-masa menyenangkan itu. Namun, 2 tahun cukup bagi saya untuk merasakan sebagai anak kampung dan pengalaman itu tidak akan saya lupakan. Saya tidak membayangkan jika saja saya tidak pernah kesana dan tidak merasakan pengalaman-pengalaman itu. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan sebagai anak kampung.


Lidya Nurmalasari
16 Maret 2013
lidya
Mimpi dan keajaiban
aku percaya keduanya
karena itu aku selalu bermimpi
dan aku yakin akan ada keajaiban-keajaiban yang membuat mimpi itu terwujud
yang perlu dilakukan hanyalah dua hal,
yaitu berusaha dan berdoa.
sebelumnya aku tidak terlalu mengerti makna dari dua kata itu
tapi sekarang,
ketika aku mencoba mewujudkan mimpi-mimpiku
yang perlu kulakukan adalah berusaha keras,
sekeras-kerasnya,
semampunya,
sampai kita mencapai titik dimana tidak ada kesanggupan lagi
dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan
selain berdoa
usaha-usaha yang kita lakukan
akan sia-sia
jika kita tidak meminta pada Tuhan untuk melancarkannya,
untuk memuluskannya.
Tuhan yang mengatur semuanya
dan Dia tidak akan diam melihat kerja keras kita
kesungguhan kita.
Jika Tuhan tidak mewujudkan mimpi kita
maka Dia mempunyai rencana lain
mewujudkan mimpi lain untuk kita
yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Percaya pada mimpimu
dan kekuatan doa.

lidya
Masih saja terpaku menghitung jejak langkahku yang tak pernah ada habisnya. 
Sambil memunguti daun-daun kering yang telah rusak kuinjak. 
Memasukkannya dalam kantung yang semakin menggembung dipenuhi sampah kenangan. 
Yang seharusnya kubuang di tempat yang tak akan pernah kukunjungi lagi. 
Namun, semakin penuh kantung itu, semakin aku tak mampu membuangnya. 
Terlalu indah untuk dibuang dan dilepaskan begitu saja. 
Walau aku tahu itu cuma sampah. 
Sampah yang semakin lama semakin memberatkan pundakku untuk memikulnya. 
Seandainya saja mentari yang sedari tadi memelototiku bisa membakarnya dan menjadikannya asap untuk kemudian membumbung tinggi di angkasa, 
menemani awan, 
menjadi hujan yang akan menyiram semua penat ini.

Bekasi, 30 September 2012
Label: 0 Comment | edit post
lidya











Mendaki.
Menjejakkan kaki di tanah dan bebatuan yang sepi.
Berat. Sangat terasa berat dibandingkan ketika kita bermalas-malasan di atas kasur yang nyaman.
Tapi semua orang berkata, "Akan terbayar nantinya sesampai di puncak!".





Namun tidak. Ini bukan soal terbayar atau apapun. Ini tentang proses.
Ketika kita sampai dan melihat ke bawah hingga menyadari apa yang telah kita lewati.
Ada sesuatu yang tidak terungkapkan dan begitu menggetarkan hati.
Ada sesuatu yang tidak mampu dirangkaikan dengan kata-kata terindah sekalipun.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan jantung dan lubuk hati ini.
Yang cukup tergambar dengan senyum termanis.
Yang mungkin hanya bisa diartikan oleh para pendaki.
Dan kini aku hanya mampu berkata, "Aku ingin lagi".




Lidya Nurmalasari
2 Juli 2012
lidya
Sungguh.. rasanya ingin menghilang saja
ketika semua hal memenuhi kepala
ketika semua lara memenuhi rongga dada
dan semua rencana tidak berjalan dengan semestinya
seandainya aku tahu apa yang terbaik untukku saat ini dan nanti
maka mungkin sedih ini tidak akan menggelayuti pundakku
yang semakin hari semakin terasa berat saja
di saat semua yang diinginkan dan diusahakan dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati
menguap dan menghilang seperti buih di lautan
seandainya Tuhan memperlihatkan kebahagiaan yang sebenarnya dibutuhkan
dan akan didapatkan nantinya
mungkin tidak akan ada pelajaran terbaik yang dapat dipetik
dan menjadikan kita manusia yang lebih baik

Aku ingin menghilang
dari semua yang selalu mengamati setiap langkah ini
aku ingin berdiri 
ditempat yang belum pernah aku singgahi sebelumnya
dimana tidak ada apapun yang mengingatkanku 
pada semua resah yang aku rasakan
walau aku tidak akan pernah tahu
apa yang terjadi ketika aku kembali

lidya










Menulis..
Sudah lama aku menantikan saat-saat ini..
Saat-saat dimana aku membiarkan jari-jemariku beradu dengan keyboard.
Saat-saat aku ingin menuangkan semua yang ada dalam kepalaku ke dalam halaman di monitor.

Rasanya banyak sekali yang ingin kutulis
namun, entah kenapa tidak pernah terealisasikan
bukan hanya karena tidak ada inspirasi
tapi sepertinya tidak ada keberanian yang muncul
entah karena kepercayaan diri yang seenaknya saja kabur dan bermain dengan yang lain
atau rasa malas yang selalu setia menemaniku dimanapun dan kapanpun
atau karena memang tidak berbakat atau tidak bisa menulis?

Kadang aku salut (atau mungkin iri?) dengan orang-orang yang punya banyak artikel atau tulisan
meskipun itu plagiat, kutipan, parafrase, atau menggabungkan tulisan2 orang lain.
mereka punya keberanian (atau mungkin kesempatan) yang rasanya ingin juga aku miliki.

Entah kenapa aku ingin sekali menulis
mungkin karena aku berada di lingkungan para penulis
atau karena aku sangat suka membaca
atau juga karena aku selalu memikirkan suatu hal dengan begitu mendalam
alasan-alasan itu seharusnya sudah menjadikan aku seorang penulis yang hebat

Namun aku juga sering berpikir hal-hal yang menghambatku untuk menulis
mungkinkah karena bakat?
aku sangat suka menggambar
dan orang-orang di sekitarku menyatakan gambarku cukup berkesan untuk mereka
sehingga mereka menganggap aku memiliki bakat menggambar
selama ini hampir semua orang menganggap bahwa seseorang hanya memiliki satu bakat saja yang menonjol
oleh karena itu aku (dan orang-orang di sekitarku yang memang penulis) merasa bakatku adalah menggambar, bahkan ada yang menyebutku sketcher.
mungkin karena itu aku merasa tidak bisa menulis
padahal orang-orang di sekitarku (yang memang penulis) belum pernah melihat tulisanku..

tapi aku akan mencoba
entah nanti hasilnya seperti apa
tapi aku akan mencoba menulis
karena aku ingin menulis..

gambar: http://annida-online.com
lidya
Ada sebuah cerita yang sekali waktu saya dengar dari sebuah acara dakwah di televisi. Saya lupa narasumbernya siapa, tapi itu acara punya Aa Gym. Beliau adalah tamu di acara tersebut. Yang menceritakan memang tidak terkenal, ceritanya pun tidak terkenal juga. Tapi, sekali saya dengar, saya tidak lupa sampai sekarang. Dan itu pun bertahun-tahun yang lalu. Entah kenapa cerita tersebut bermakna dalam untuk saya dan mempengaruhi segala pemikiran saya tentang hidup ini. Begini ceritanya...

Alkisah, ada seorang raja yang cukup bijaksana. ia mempunyai seorang sahabat yang sangat dekat. Sahabatnya tersebut sekaligus menjadi penasihat sang raja. Kemanapun raja pergi, sahabatnya selalu ikut serta. Sahabat raja tersebut mempunyai ciri khas, Ia selalu mengatakan "Ini yang terbaik" pada setiap kejadian yang dialaminya ataupun yang dilihatnya.




Pada suatu waktu, sang raja pergi berburu ke hutan. Diajaknya pula sahabat beserta para pengawalnya. Pada saat raja ingin memanah seekor rusa, terjadi kesalahan. Ibu jari sang raja putus akibat kesalahan memanah. Raja menangis karena kehilangan ibu jarinya. Sahabat raja yang melihat kejadian itu serta merta mengatakan kepada raja, "Ini yang terbaik". Sang raja sangat marah karena tersinggung dan kesal. Ia pun langsung memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan sahabatnya itu. Pada saat dimasukkan ke dalam penjara, sahabat raja tetap mengatakan, "Ini yang terbaik". Sang raja heran, mengapa sang sahabat malah mengatakan ini yang terbaik ketika dipenjara? Ia pun hanya tertawa mendengarnya.

Beberapa waktu kemudian, Raja kembali berburu. Ia berburu di sebuah hutan yang asing dan jarang didatangi. Ternyata di hutan tersebut tinggal sekelompok kanibal. Para kanibal tersebut menangkap Raja dan para pengawalnya. Walaupun mereka kanibal, tetapi mereka memiliki kepercayaan, yaitu mereka hanya memakan manusia yang fisiknya sempurna alias tidak cacat tubuh. Pada saat giliran raja akan dimakan, ada seorang kanibal yang melihat tangan sang Raja. Ternyata ibu jarinya tidak ada! Maka sang Raja pun dilepaskan. Sang Raja bahagia bukan kepalang. Ia lalu teringat sahabatnya yang dipenjara. Ternyata benar perkataan sahabatnya waktu itu. Ia pasti akan dimakan oleh para kanibal jika ibu jarinya masih ada. Dan sahabatnya pun akan ikut Raja berburu jika tidak dipenjara dan dimakan oleh para kanibal.

 

Demikianlah cerita Raja dan sahabatnya. Sebuah cerita sederhana namun bermakna dalam (bagi saya pribadi). Bahwa, segala yang kita alami dan yang kita dapatkan merupakan yang terbaik dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kita. Dia memahami kita lebih dari kita memahami-Nya. Dan Dia selalu memberikan yang terbaik bagi kita tanpa kita mengerti sebelumnya. ^^

lidya

Krakatau
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.



Perkembangan Gunung Krakatau

Gunung Krakatau Purba

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.
Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:
Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera
Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.
Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Munculnya Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.




Erupsi 1883

Sebuah litografi yang dibuat pada tahun 1888 yang menggambarkan Gunung Krakatau pada kejadian Erupsi 1883.
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.
Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.
Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

Anak Krakatau

Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.
Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.

Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.