Padahal, sebelumnya tak pernah sebegininya.
Hari ini aku menyadari, aku nggak punya "tandem".
Obrolan yang terjadi di lingkungan kerja rasanya begitu membosankan. Seputar dunia keluarga, bicarakan suami, bicarakan anak. Tidak salah memang, bahkan banyak pelajaran yang bisa kuambil untukku kelak. Tapi rasanya terlalu membosankan. Untukku.
Obrolan politik pun sulit, karena mereka orang-orang yang kaku dan tidak berpikiran terbuka. Jika tidak sejalan, maka orang lain akan dianggap salah bahkan kafir. Obrolan lingkungan pun ngga nyambung. Banyak yang untuk hal-hal terkini mereka tidak tahu, dan lagi-lagi mereka akan minta penjelasanku.
Aku butuh diskusi. Butuh "tandem" untuk membicarakan hal-hal seru yang memancing untuk berpikir lebih, bukan hanya soal hobi nonton drama korea atau gosip artis.
Butuh orang-orang yang berwawasan agar aku tidak hanya berada dalam tempurung. Dalam goa yang membuatku tidak berkembang.
Pada akhirnya, aku hanya bisa lari ke media sosial seperti twitter dan instagram. Dan itu tidak banyak membantu.
Obrolan-obrolan ringan yang terjadi malah hanya membuatku lelah.
Aku butuh "tandem".
22 Oktober 2019
Jari mulai lelah memegang pena
Kertas masih kosong
Tak satu coretan pun menodainya
Apa yang salah?
Pikiran yang buntu,
Jari yang pegal,
Atau
Perasaan mendalam pada kertas itu?
Perasaan mendalam membuatmu sayang
Sayang pada si kertas
Tak ingin mengotorinya
Membuatnya tetap bersih
Hingga membiarkannya tetap kosong
Tapi tahukah kamu?
Perasaan si kertas
Kertas rindu
Rindu dicoreti, diisi
Ia tak mau kosong
Kutunggu langit mendung
Meski mentari menyeringai gembira
Awan putih bergerak perlahan bahagia
Burung beriringan terbang sambil bersenda
Aku tak suka keriangan itu
Mentari yang memanggil peluhku
Awan yang menghalangi pandangku
Burung yang berisik mengusikku
Mendung
Aku rindu
Pada teduhmu yang menghilangkan resah
Membawa angin dingin membelai wajah
Pada rintik yang segera kau hadirkan
Bernyanyi tanpa berkata
Aku sudah mengambil keputusan. Sebuah keputusan besar kurasa, karena mampu mengubah diri dan jalan hidupku. Aku kini meragu apakah aku telah mengambil keputusan yang tepat. Aku merasakan kebingungan sekarang. Sebuah ketidaknyamanan yang membuatku cukup lelah dan tidak bergairah.
Aku memutuskan untuk pindah pekerjaan. Aku berpikir bahwa pekerjaan ini akan menjadikanku manusia yang lebih baik. Walau harus merubahku.
Namun ketika beberapa saat kujalani, aku merasa menjadi orang yang bukan diriku. Aku merasa terkekang, terbatasi, dan menjadi berbeda tentunya. Sejujurnya aku tidak suka ini. Aku merasa terbebani, sangat terbebani sehingga membuatku merasakan lelah yang sangat tanpa mengerjakan pekerjaan berat.
Aku bukannya tidak ingin mengubah diriku menjadi lebih baik. Namun ini terasa seperti aku sedang dipaksa menjadi orang lain dan aku tidak senang. Rasanya seperti kau sedang dipaksa bermain basket padahal kau tidak suka dan lebih suka bermain bulutangkis.
Sedih, kesal, dan tidak nyaman.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang...
Aku sudah mencoba ikhlas dan bersyukur. Namun tetap saja rasa tidak nyaman itu muncul..
Aku yang datang menghampiri
Seketika terpesona dan jatuh cinta
Pada tawa dan celoteh para pelakon yang memburu pengetahuan dan etika
Apalah aku ini
Datang dengan ilmu seadanya
dan pengalaman yang nilainya tak ada
Biru dan jingga
3 windu menuai cerita
Kisah kasih antara hubungan manusia
Namun bukan tentang rama dan shinta
Maaf jika aku minta kau rela
Aku telah mengambil banyak darimu wahai biru dan jingga
Termasuk kaos kaki di akhir cerita
Tapi hanya sedikit yang bisa kuberi
Takdir kita hanya 3 windu
Aku yang datang hanya dengan ilmu seadanya dan pengalaman yang tak ada nilainya
Kini pergi dengan campuran warnamu
Terima kasih biru dan jingga
Walau aku tak pernah mengatakannya
Hatiku pernah tertambat pada kedua warna itu
Depok
26 Juni 2016
Di malam penghujung bulan ini, aku mendapatkan beberapa pemikiran. Apa yang aku alami tidak terlalu luar biasa, tapi cukup membuatku memikirkan beberapa hal.
Hari ini kegiatanku hanya nonton film di bioskop, berdua dengan teman. Ke toko buku sendirian, dan pulang naik kereta.
Sederhana, tapi entah kenapa cukup membuatku berpikir dalam. Mungkin karena aku baru melihat dunia luar, setelah setiap hari yang kulihat hanya ruang kelas dan jalanan macet.
Ketika nonton film, aku merasa lebih mengenal diriku. Aku yang suka hal baru, nyentrik, dan di luar kebiasaan. Hal seperti itu aku anggap jenius. Sebelumnya aku sempat merenungi, apa yang sebenarnya aku suka. Aku hanya takut jika kesukaanku dikarenakan oleh orang lain. Karena pendapat atau anggapan orang. Aku takut. Karena itu aku selalu bertanya-tanya benarkah yang sudah kulakukan adalah yang sebenarnya aku suka, bukan karena penilaian orang lain?
Hari ini aku tahu sedikit. Dari filmyang aku tonton hari ini. Aku suka dengan gambar-gambar di film itu, hal-hal yang dijalani, tentu saja berupa perjalanan dan sedikit tampilan budaya, yang menurut orang lain mungkin ngga jelas dan membosankan, tapi buatku, itu kereenn!
Lalu aku ke toko buku, seketika aku tertarik pada sekumpulan buku tentang tokoh sejarah. Tan malaka, Cut nyak dien, E. F. E. Douwes Dekker, sampai merembet ke Plato dan Socrates, kemudian sejarah Majapahit. Rasanya ingin aku bawa pulang semua buku itu. Sesaat aku tertawa, ingat saat masa sekolah dimana aku sangat membenci pelajaran sejarah. Aku lebih memilih mengerjakan 50 soal matematika dibanding menghapal pelajaran sejarah yang selalu dengan mudahnya aku lupakan. Yah, daya ingatku lemah. Namun, semesta berkonspirasi (mengutip kalimat yg lagi ngetren saat ini ;)).
Kata orang, jika kita terlalu membenci sesuatu, maka kita akan berhadapan dengan hal tersebut. Dan itu terjadi padaku. Setelah lulus kuliah, aku diharuskan mengajar IPS yang didalamnya ada geografi, sejarah, dan ekonomi. Well, geografi emang bidangku, ekonomi masih okelah, sejarah.. Nightmare!
Dengan terpaksa aku mengajar sejarah yg artinya harus belajar lagi.
Dan ternyata, berkutat dengan sejarah tidak buruk, malah membuatku tertarik. Dan aku membenarkan kalimat, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya", yang dulu kalimat itu aku cibir karena menurutku omong kosong.
Dan sekarang.. Ya, aku tertarik pada sejarah.
Kemudian, aku menelusuri buku2 di toko tersebut hingga sampai di barisan komik dan novel. Sampai tersenyum-senyum ketika melihat komik yang pernah aku tonton animenya bersama teman di laptop, ingat ceritanya yang kocak. Melihat deretan komik dengan berbagai judul. Lalu hinggap di lemari penuh novel remaja yang malas kulihat karena ceritanya ngga jauh beda dengan yang bisa kubaca gratis di Wattpad, lalu berbinar-binar ketika melihat puisi Khalil Gibran, novel sastra Buya Hamka, Charles Dickens, dan Ernest Hemingway. Lalu sampai pada novel ringan nan manis Dylan.
See? Unik memang. Yang aku lihat begitu beragam. Dari mulai sejarah, filsafat, komik ringan, puisi, novel sastra, dan novel cerita cinta anak SMA. Yes, memang begitulah aku, imajiner tapi menyukai teori dan bukti di lapangan, apa sih..? Tapi memang itu yg dikatakan ketika aku mencoba melakukan psikotest. Katanya perpaduan unik.
So.. Nggak gampang memang mengenali diri. Yang kurasa lebih sulit dari mengenali orang lain. Butuh proses dan harus mengalami beberapa hal sehingga sedikit demi sedikit misteri dalam diri kita terkuak.
Ngga jelas sih ini tulisannya. Mohon maaf yaa.. Hehee
Akan ada pelangi setelah hujan. Kalimat itu yang dari dulu jadi penyemangat gw dalam menjalani semua beban hidup. Daann.. Finally, terbukti. Yah, gw sedang benar-benar merasakan hadirnya pelangi itu sekarang. Seolah-olah gw dapat kebahagian bertubi-tubi setelah kesialan bertubi-tubi. Sekarang gw lagi bahagiaaaa banget. Bahagia dengan cinta yang hadir di sekeliling gw. Yah, bermula dari waktu gw ulang tahun. Tahun2 belakangan ini memang ucapan ulang tahun hanya dari orang2 terrrrdekat dan keluarga aja. Tapi tahun ini banyak banget yang inget (mungkin diingetin facebook) dan ngucapin. Itu aja udah bikin gw bahagia. Tapi gw juga dapet kejutan (yg udah gw tau duluan) dari murid2 gw. Mereka bawain kue tart dan banyak kado. Gw merasa terharu banget sama cinta mereka.
Selain itu juga gw merasa ada aja rejeki yang dateng disaat gw merasa lagi bokek banget.
Mungkin bagi kalian yang baca ini biasa banget. Tapi bagi gw, ini luar biasa karena apa yang sudah gw lalui sebelum ini. Yah, seperti yang tadi gw bilang. Kesialan bertubi-tubi. Dari ilang hp yg baru 2 bulan gw beli, dapet tuduhan ngga berperikemanusiaan dari atasan, jatuh dari motor, digigitin serangga yg gatelnya luar biasa, stiker motor dicabut orang, kabel speedometer putus, diomelin temen yg udah kaya sodara, dan masih banyak lagi. Dan hebatnya, gw sama sekali ngga ngeluarin air mata untuk itu semua. Sekali sih pas mau tidur. Tapi semua gw jalani dengan ikhlas dan sabar, yah walaupun masih keluar dumelan-dumelan dan ratapan. Dan alhamdulillah, Allah menjawab dengan perasaan yang luar biasa bahagia yang mungkin ngga bisa dibeli dengan uang seberapapun. Cinta yang gw dapet dari murid-murid gw dan orang di sekitar gw.
Hari ini pikiranku penuh. Penuh dengan terkaan, penyesalan, dan kecurigaan. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan hari ini benar atau tidak. Tapi aku mendapatkan satu hal, bahwa aku tidak akan mempercayai orang sepenuhnya. Aku mendapatkan sesuatu yang membuatku berpikir bahwa mereka memang bukan orang yang betul betul benar. Mereka tidak bersih. Mereka memanfaatkan apapun demi mereka. Saya tidak katakan keuntungan karena saya rasa itu bukan keuntungan untuk mereka. Mempercayai seseorang tanpa bukti itu memang salah. Benar-benar salah. Dan saya menyesal telah melakukannya. Dan kejujuran mungkin tidak akan dihargai oleh orang-orang yang hanya mau mendengar apa yang mereka mau dengar, bukan apa yang sebenarnya.
Jika beruntung, aku mendapatkan pelangi di langit itu. Dan aku mendapatkannya di hari terbaik. Hari dimana perjuanganku di kampus telah berakhir. Dan pelangi itu hadir :)
Aku seperti terombang-ambing di tengah laut lepas. Sendirian. Dan kebingungan. Perahu mana yang harus kumasuki dari begitu banyak perahu yang ada. Bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri. Bagian dari perahu manakah aku ini?
Yang aku kejar selama ini adalah kebahagiaan. setidaknya, hanya itulah yang aku tahu. Tapi kini, aku sendiri mulai lupa, ataukah memang tidak tahu dari awal? Apakah kebahagiaan itu? Dunia seperti apa yang disebut kebahagiaan? Dunia tawa kah? Dunia toleransi? Dunia mengalah? Dunia mencintai? Dunia materi? Atau.. Adakah dunia lain yang bisa kusebut, "Inilah dunia bahagia"?
Suatu saat keluarga saya harus pindah rumah, waktu itu saya masih kelas 3 sd. Lingkungan baru saya belum banyak memiliki jalan yang beraspal. Kebanyakan hanya jalan setapak yang kecil. Berbeda sekali dengan lingkungan rumah saya dulu yang jalanannya lebar karena banyak keluar masuk mobil. Lapangan pun belum beraspal dan masih tanah.
Sebagai anak baru, saya harus menarik perhatian anak-anak lingkungan sekitar agar mau berteman dan bermain dengan saya. Saya sodorkan kepada mereka berbagai permainan yang saya punya, seperti monopoli, ludo, atau ular tangga. Ternyata mereka sangat suka. Mereka juga suka sekali dengan buku-buku cerita bergambar milik saya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kemudian saya lebih tertarik dengan dunia mereka, dimana permainan lebih banyak dilakukan di luar rumah. Tadinya saya sampai terbengong-bengong mendengar mereka mengucapkan kata-kata kasar dengan santai dan tanpa merasa bersalah. Namun, lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dan tutur kata saya yang tadinya sopan dan halus lambat laun berubah. Saudara saya yang kadang sering berkunjung pun kaget melihat perubahan saya. Banyak kata-kata mereka yang saya tidak paham, seperti kata keder, paranin, dan lain-lain. Namun, saya menyukai mereka. Banyak sekali petualangan yang mereka sodori untuk saya lakukan. Seringkali saat sore mereka mengajak saya ke hutan mengambil daun cincau, jambu mete, dan tebu. Kami juga sering main di kali, memancing dan mengambil tutut untuk dipanggang. Memetik buah seri di sawah. Membantu kakek salah satu teman kami mengambil daun pisang untuk dijual dengan upah seratus rupiah sekali angkut. Tentu saja orang tua saya tidak tahu semua itu karena mereka sibuk bekerja. Hanya kakak saya yang sibuk teriak-teriak memanggil saya hanya untuk sekedar mandi atau membeli sesuatu ke warung, padahal itu hanya alasan untuk menyuruh saya pulang.
Selama dua tahun saya disana dan sudah bisa disebut sebagai anak kampung. Saya bangga akan hal itu. Pada saat saya menginjak kelas 5 sd, kami sekeluarga pindah kembali ke lingkungan yang bisa disebut kota dan saya kehilangan masa-masa menyenangkan itu. Namun, 2 tahun cukup bagi saya untuk merasakan sebagai anak kampung dan pengalaman itu tidak akan saya lupakan. Saya tidak membayangkan jika saja saya tidak pernah kesana dan tidak merasakan pengalaman-pengalaman itu. Saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan sebagai anak kampung.
Lidya Nurmalasari
16 Maret 2013
aku percaya keduanya
karena itu aku selalu bermimpi
dan aku yakin akan ada keajaiban-keajaiban yang membuat mimpi itu terwujud
yang perlu dilakukan hanyalah dua hal,
yaitu berusaha dan berdoa.
sebelumnya aku tidak terlalu mengerti makna dari dua kata itu
tapi sekarang,
ketika aku mencoba mewujudkan mimpi-mimpiku
yang perlu kulakukan adalah berusaha keras,
sekeras-kerasnya,
semampunya,
sampai kita mencapai titik dimana tidak ada kesanggupan lagi
dimana tidak ada lagi yang bisa dilakukan
selain berdoa
usaha-usaha yang kita lakukan
akan sia-sia
jika kita tidak meminta pada Tuhan untuk melancarkannya,
untuk memuluskannya.
Tuhan yang mengatur semuanya
dan Dia tidak akan diam melihat kerja keras kita
kesungguhan kita.
Jika Tuhan tidak mewujudkan mimpi kita
maka Dia mempunyai rencana lain
mewujudkan mimpi lain untuk kita
yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Percaya pada mimpimu
dan kekuatan doa.
Sambil memunguti daun-daun kering yang telah rusak kuinjak.
Memasukkannya dalam kantung yang semakin menggembung dipenuhi sampah kenangan.
Yang seharusnya kubuang di tempat yang tak akan pernah kukunjungi lagi.
Namun, semakin penuh kantung itu, semakin aku tak mampu membuangnya.
Terlalu indah untuk dibuang dan dilepaskan begitu saja.
Walau aku tahu itu cuma sampah.
Sampah yang semakin lama semakin memberatkan pundakku untuk memikulnya.
Seandainya saja mentari yang sedari tadi memelototiku bisa membakarnya dan menjadikannya asap untuk kemudian membumbung tinggi di angkasa,
menemani awan,
menjadi hujan yang akan menyiram semua penat ini.
Bekasi, 30 September 2012
Mendaki.
Menjejakkan kaki di tanah dan bebatuan yang sepi.
Berat. Sangat terasa berat dibandingkan ketika kita bermalas-malasan di atas kasur yang nyaman.
Tapi semua orang berkata, "Akan terbayar nantinya sesampai di puncak!".
Namun tidak. Ini bukan soal terbayar atau apapun. Ini tentang proses.
Ketika kita sampai dan melihat ke bawah hingga menyadari apa yang telah kita lewati.
Ada sesuatu yang tidak terungkapkan dan begitu menggetarkan hati.
Ada sesuatu yang tidak mampu dirangkaikan dengan kata-kata terindah sekalipun.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan jantung dan lubuk hati ini.
Yang cukup tergambar dengan senyum termanis.
Yang mungkin hanya bisa diartikan oleh para pendaki.
Dan kini aku hanya mampu berkata, "Aku ingin lagi".
Lidya Nurmalasari
2 Juli 2012
ketika semua hal memenuhi kepala
ketika semua lara memenuhi rongga dada
dan semua rencana tidak berjalan dengan semestinya
seandainya aku tahu apa yang terbaik untukku saat ini dan nanti
maka mungkin sedih ini tidak akan menggelayuti pundakku
yang semakin hari semakin terasa berat saja
di saat semua yang diinginkan dan diusahakan dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati
menguap dan menghilang seperti buih di lautan
seandainya Tuhan memperlihatkan kebahagiaan yang sebenarnya dibutuhkan
dan akan didapatkan nantinya
mungkin tidak akan ada pelajaran terbaik yang dapat dipetik
dan menjadikan kita manusia yang lebih baik
Aku ingin menghilang
dari semua yang selalu mengamati setiap langkah ini
aku ingin berdiri
ditempat yang belum pernah aku singgahi sebelumnya
dimana tidak ada apapun yang mengingatkanku
pada semua resah yang aku rasakan
walau aku tidak akan pernah tahu
apa yang terjadi ketika aku kembali
Menulis..
Sudah lama aku menantikan saat-saat ini..
Saat-saat dimana aku membiarkan jari-jemariku beradu dengan keyboard.
Saat-saat aku ingin menuangkan semua yang ada dalam kepalaku ke dalam halaman di monitor.
Rasanya banyak sekali yang ingin kutulis
namun, entah kenapa tidak pernah terealisasikan
bukan hanya karena tidak ada inspirasi
tapi sepertinya tidak ada keberanian yang muncul
entah karena kepercayaan diri yang seenaknya saja kabur dan bermain dengan yang lain
atau rasa malas yang selalu setia menemaniku dimanapun dan kapanpun
atau karena memang tidak berbakat atau tidak bisa menulis?
Kadang aku salut (atau mungkin iri?) dengan orang-orang yang punya banyak artikel atau tulisan
meskipun itu plagiat, kutipan, parafrase, atau menggabungkan tulisan2 orang lain.
mereka punya keberanian (atau mungkin kesempatan) yang rasanya ingin juga aku miliki.
Entah kenapa aku ingin sekali menulis
mungkin karena aku berada di lingkungan para penulis
atau karena aku sangat suka membaca
atau juga karena aku selalu memikirkan suatu hal dengan begitu mendalam
alasan-alasan itu seharusnya sudah menjadikan aku seorang penulis yang hebat
Namun aku juga sering berpikir hal-hal yang menghambatku untuk menulis
mungkinkah karena bakat?
aku sangat suka menggambar
dan orang-orang di sekitarku menyatakan gambarku cukup berkesan untuk mereka
sehingga mereka menganggap aku memiliki bakat menggambar
selama ini hampir semua orang menganggap bahwa seseorang hanya memiliki satu bakat saja yang menonjol
oleh karena itu aku (dan orang-orang di sekitarku yang memang penulis) merasa bakatku adalah menggambar, bahkan ada yang menyebutku sketcher.
mungkin karena itu aku merasa tidak bisa menulis
padahal orang-orang di sekitarku (yang memang penulis) belum pernah melihat tulisanku..
tapi aku akan mencoba
entah nanti hasilnya seperti apa
tapi aku akan mencoba menulis
karena aku ingin menulis..
gambar: http://annida-online.com
Perkembangan Gunung Krakatau
Gunung Krakatau Purba
|
“
|
Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula
goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian
datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai
menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara
dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera
|
”
|





